Mengabaikan invoice atau piutang tak tertagih berbeda dengan mengabaikan email spam yang hampir tanpa risiko. Semakin lama suatu piutang tidak terselesaikan, semakin besar pula risiko yang akan perusahaan hadapi.
Penting untuk memahami risiko yang mungkin terjadi jika suatu piutang tidak terbayarkan. Dengan begitu, perusahaan bisa lebih termotivasi untuk bergerak cepat melakukan penagihan.
Risiko Piutang Tak Tertagih
Risiko piutang tak tertagih cukup beragam, tergantung seberapa lama piutang tersebut macet. Berikut ini masalah-masalah yang akan dihadapi oleh perusahaan saat mengabaikan piutang yang tidak terbayar.
30-60 Hari Pertama: Arus Kas Terganggu
Saat piutang tidak terbayar di 30 hingga 60 hari pertama, dana yang seharusnya ada di rekening menjadi tidak ada. Kondisi ini tentu saja akan mendatangkan berbagai masalah, khususnya dalam hal operasional bisnis.
Kemungkinan yang bisa terjadi adalah keterlambatan pembayaran gaji karyawan yang membuat karyawan merasa tidak nyaman. Jika berlangsung lama, beberapa karyawan mungkin saja mengajukan resign dan berakibat pada performa bisnis secara umum. Di sisi lain, arus kas yang terganggu juga membuat perusahaan kesulitan mengembangkan bisnis atau mengambil peluang untuk pertumbuhan bisnis.
Selain itu, pembayaran kepada supplier juga dapat terganggu, yang berakibat pada hubungan kerja yang menjadi kurang baik. Lebih lanjut lagi, supplier bisa saja mulai meminta pembayaran di muka atau sistem cash-on-delivery sebagai langkah preventif karena menyadari posisi kas perusahaan yang kurang baik.
Dampak dari kondisi ini bisa berkembang lebih cepat daripada yang Anda bayangkan. Bukan hanya operasional perusahaan yang terganggu, profesionalitas dan reputasi perusahaan juga dapat tercoreng hanya karena mengabaikan satu atau beberapa piutang yang tidak tertagih.
Lewat Dari 90 Hari: Peluang Piutang Terbayar Semakin Kecil
Anda mungkin berpikir kalau debitur akan membayarkan utangnya di waktu yang tepat. Sayangnya, sebagian besar debitur justru semakin enggan membayar jika invoice tak tertagih dibiarkan terlalu lama. Ada banyak alasan di balik kondisi ini, seperti debitur yang memang kesulitan membayar atau tidak lagi menjadikan utang tersebut sebagai prioritas.
Semakin lama suatu invoice tidak tertagih, semakin kecil peluang piutang tersebut dilunasi. Kondisi yang awalnya utang-piutang biasa dapat berubah menjadi kasus yang serius. Akibatnya, Anda perlu berinvestasi lebih pada masalah ini, baik secara materi, waktu, maupun fokus. Kadang-kadang, investasi yang dikeluarkan untuk masalah ini bisa lebih besar dari nilai invoice yang dibayarkan, sehingga banyak perusahaan yang akhirnya melakukan penghapusan piutang.
Penghapusan Piutang yang Berdampak ke Kesehatan Finansial Perusahaan
Setelah berbagai usaha yang dikeluarkan, perusahaan mulai menyadari bahwa piutang tersebut tidak akan terbayarkan. Sehingga, melakukan penghapusan piutang menjadi satu-satunya cara. Namun, cara ini bukannya tanpa risiko. Penghapusan piutang berarti mengurangi profit yang didapat dan dilaporkan oleh perusahaan. Nantinya, hal ini akan berdampak pada skor kredit dan kemampuan perusahaan menjaga kesehatan finansialnya di masa depan. Selain itu, investasi materi, waktu, dan fokus yang dikeluarkan selama penagihan juga akan hilang selamanya.
Untuk menghindari risiko ini, perusahaan perlu melakukan beberapa langkah preventif. Mulai dari membuat kontrak yang jelas mengenai pembayaran invoice hingga mitigasi jika terjadi keterlambatan pembayaran. Salah satu cara yang bisa perusahaan lakukan adalah dengan menghubungi jasa penagih piutang profesional seperti https://masterdebtcollector.id/.
Master Debt Collector akan membantu perusahaan Anda untuk melakukan penagihan secara intensif sesuai hukum yang berlaku. Dengan begitu, risiko piutang tak tertagih bisa diminimalisir dan operasional perusahaan dapat berjalan tanpa terganggu.







